backtotop

Categories: Berita Terbaru

Sepakbola tak lagi setimpal permainan serta aksi pada lapangan hijau. Lebih daripada tersebut, sepakbola seringkali sebagai pencerahan. Sepakbola mengulurkan saya pada satu negeri trendi, Vietnam. Piala AFF 2014 yang menjadi pijakannya.test1

Bisa merintis perkelahian klub nasional Indonesia dengan langsung dalam negeri tetangga yakni satu kehormatan. Daripada sana pulalah terhampar peluang utk merentangkan wawasan. Pada negeri orang, kita dapat mengamati dengan langsung situasi sosial, memahaminya, lantas menjadikannya tolok ukur terhadap tanah air kita.

Sebab hadir dgn patokan sepakbola, jadi sudah setimbal hal pertama yang butuh dilakukan ialah tahu dengan bingkai sepakbola. Juga penilaian pertama yg tampak untuk Vietnam ialah warganya yang seolah tak hirau dgn resepsi bola Asia Tenggara itu.

Sehari pra perjuangan antara Vietnam kontra Indonesia melintas, survey kecil-kecilan mengangkat saya di dampak yang lumayan mengherankan. Lima dari lima orang Vietnam mengisyaratkan tak terlalu hirau pada timnasnya.

Terlebih lagi gaungnya pula tak terlalu berasa pada media-media lokal. Unsur yang tentu sangat berbeda dgn pada Indonesia.

Di Indonesia, tidak sempat terdapat ampun buat sepakbola. Serupa penggemar, kita rasa-rasanya senantiasa berlomba-lomba mengilapkan kegilaan. Terlepas daripada ikatan rasa nasionalisme bagi negara, diakui atau pun enggak, terdapat darah panas yg meletup-letup di sejumlah masyarakat kita apabila bicara permainan ini. Sementara media berlaga keganasan mengusahakan di setiap sisi.

Dr suporter, selamanya ada kisah-kisah heroik mereka yang menempuh prosesi jauh bagi mengangkat timnya, dengan modal ala kadarnya serta kenekatan yang sebesar-besarnya. Nonton bareng di mana-mana, penjual seragam diburu ke semua penjuru. Yg paling berasa adalah selamanya tersedia optimisme walaupun tim nasional Indonesia gak mampu bicara penuh di level internasional selama kurun beberapa dekade terakhir.

Pada Vietnam, kesukaan semacam itu dapat dibilang tidak terasa. Faktanya, memang gak terlihat terdapat kekuatan membangun ekspresi ke arah sana. Menyambut rivalitas perdana timnasnya, sejumlah media Vietnam bahkan tidak dengan menyusup menyidik timnya, meributkan calon-calon lawan, atau menonjolkan kuantitas pemberitahuan urusan turnamen ini. Sejumlah setara memberikan pandangan kecil, terlebih terdapat yang justru bertingkah cenderung sarkastis dengan mengangkat tema pengaturan skor dan perjudian yg benar-benar tengah ramai di sepakbola Vietnam & mengaitkannya dengan Piala AFF.

Namun di dalam prosesnya, fakta-fakta ini lumayan gugur dengan sendirinya periode hari duel sampai. Vietnam ternyata betul2 bersemangat dgn sepakbola. My Dinh Stadium awalnya benar-benar tampil sepi, terutama sampai dengan setengah jam sebelum perjuangan. Akan tetapi lambat-lambat penuh kendatipun beberapa sektor masih kosong.

Sejauh pertarungan mereka bukan henti-henti menyerukan yel-yel. Pada satu saat mereka kompak beramai-ramai menyalakan ponsel dan mengangkatnya ke udara, membentuk sebuah visi pengetahuan yang memesonakan.

Menariknya, meski mengisyaratkan fanatisme sedemikian rupa dalam stadion, pendukung Vietnam juga betul-betul tahu tips memperlakukan lawannya. Misal, saat lagu Indonesia Raya hendak dikumandangkan, mereka menyambutnya dgn tepuk tangan dan sepanjang lagu diputar mereka benar2 mengeloskan ruang guna Indonesia. Gak terdapat siulan, “huu”, atau tindakan-tindakan lain yang sifatnya melecehkan. Sama dengan tatkala lagu selesai, dgn penuh takzim mereka bertepuk tangan. Beberapa sikap positif lainnya pula ditunjukkan para suporter Vietnam. Diantaranya tatkala si kiper mengawasi blunder yang menghentikan kemenangan pada menit ke-84. Sempat terlihat rasa kaget, akan tetapi mereka segera bertepuk tangan dalam menyemangati si pemain.